Islam ala Madzhab Ahlussunah Wal Jama’ah

adalah sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli (skripturalis). Karena itu sumber pemikiran tidak hanya Al-Qur’an, Sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik. Cara berpikir semacam itu dirujuk dari pemikir terdahulu, seperti Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang teologi. Kemudian dalam bidang fikih mengikuti empat madzhab; Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat.
 

Tatacara Sholat




Bibawah ini berikut urutan dan tatacara melaksanakan sholat.


1. Niat sembari mengangkat tangan atau takbirotul ikhrom. (adapun pelafadtan niat didalam hati, sebaiknya diucapkan terlebih dulu guna mempermudah ketika melaksanakan niat yang disertai takbirotul ikhrom)
2. Takbirotul ihrom, yaitu mengangkat kedua telapak tangan dengan mengucapkan Allahu Akbar الله اكبر
3. a) Membaca doa iftitah,
الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا, انى وجهت وجهي للذى فطر السماوات والارض حنيفا مسلما وما انا من المشركين, ان صلاتى ونسكى ومحياي ومماتى لله رب العالمين, لا شريك له وبذلك امرت وانا من المسلمين


Allhuakbar kabiro walhamdulillahikatsiro wasubhanallahi bukrotau wa ashila, inni wajahtu wajhia lilladzi fathorossamawati wal ardhi hanifam muslimau wama ana minal musyrikin, inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil 'alamin, la syarika lahu wabidzalika umirtu wa ana minal muslim.


3. b) membaca surah alfatehah (bismillah termasuk ayat menurut madhab syafi'i) dan membaca surah/ayat alqur'an
بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ (١) 
ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ (٢)  ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ (٣)  مَـٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ (٤)  إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ (٥)  ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٲطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ  (٦)صِرَٲطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ (٧)
4. Rukuk, untuk gerakan saat rukuk membaca Allahu Akbar.
 سبحان ربي العظيم وبحمده


5. I'tidal atau berdiri tegak lurus seusai rukuk. adapun bacaann ketika melakukan i'tidal adalah "sami'allahuliman hamidah" سمع الله لمن حمده
ربنا لك الحمد ملء السماوات وملء الارض وملء ما شئت من شيئ بعد


6. Sujud. bacaan ketika hendak sujud adalah AllahuAkbar


7. Sujud
 سبحان ربي الأعلى وبحمده


8. Duduk diantara dua sujud. setiap gerakannya melafadhkan Allahu Akbar
رب اغفرلى وارحمنى واجبرنى وارفعنى وارزقنى واهدنى وعافنى واعف عنى


9. Duduk tasyahud awwal. setiap gerakannya melafadhkan Allahu Akbar
التحيات المباركات الصلوات الطيبات لله, السلام عليك ايها النبي ورحمة الله وبركاته, السلام علينا وعلى عباد الله الصلحين, اشهد ان لا اله الا الله, و اشهد ان محمدا رسول الله, اللهم صلى على سيدنا محمد
Attahiyyatul Mubarakaatush sholawaatuth thayyibatu lillaah, Assalaamu’alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullaahi wabarakaatuh, Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallaah, Waasyhadu anna Muhammadan rasuulullaah. Allahhumma sholli ‘alaa Saidina Muhammad.


10. Setelah tasyahud awwal, berdiri. melafadhakan Allahu Akbar


11. Tasyahud akhir.


التحيات المباركات الصلوات الطيبات لله, السلام عليك ايها النبي ورحمة الله وبركاته, السلام علينا وعلى عباد الله الصلحين, اشهد ان لا اله الا الله, و اشهد ان محمدا رسول الله, اللهم صلى على سيدنا محمد, وعلى سيدنا محمد, كما صليت على سيدنا ابرهيم, وعلى ال سيدنا ابراهيم, وبارك على سيدنا محمد, وعلى ال سيدنا محمد, كما بركت على سيدنا ابراهيم, وعلى ال سيدنا ابراهيم, فى العالمين انك حميد مجيد
Attahiyyatul Mubarakaatush sholawaatuth thayyibatu lillaah, Assalaamu’alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullaahi wabarakaatuh, Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallaah, Waasyhadu anna Muhammadan rasuulullaah. Allahhumma sholli ‘alaa Saidina Muhammad wa ‘ala aalihi Saidina Muhammad, kamaa sholaita ‘ala saidina Ibrahiim wa ‘ala aalihi saidina Ibrahiim, wa baarik ‘ala saidina Muhammad wa ‘ala aalihi saidina Muhammad, kamaa baarakta ‘ala saidina Ibrahiim wa ‘ala aalihi saidina Ibrahiim, fil alamina innaka hamiidum majiid


12. Salam, dengan menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri dengan mengucapkan assalamu'alaikum warohmatullah





Read more

Tasawuf dan Akhlak


Kalau kita memperhatikan sejarah, tampaklah bahwa kemunculan 'tren' tasawuf selalu mengiringi kondisi masyarakat Muslim yang tidak seimbang. Ataukah terlalu sibuk dengan urusan dunia dan melupakan akhirat, terlalu semangat dengan ilmu tanpa peduli amal, terlalu fanatik terhadap syariat tanpa peduli ruhnya, atau terlalu mulia bicara tanpa peduli tengiknya perilaku.


Tasawuf, seperti bisa kita pahami dari ungkapan-ungkapan para tokohnya, merupakan jalan menuju Allah melalui akhlak yang mulia. Metode para sufi adalah membersihkan hati dan memperhalus budi. Contoh dan teladan mereka adalah Rasulullah SAW yang berbudi luhur dan menyatakan bahwa ia diutus Allah semata-mata untuk menyempurnakan akhlak.

Kehidupan yang serba materi, keberagamaan yang serba daging, dan tata pergaulan yang serba didasari kepentingan, ternyata telah membuat masyarakat seperti sakit jiwa. Ketidaknalaran meruyak menghinggapi sektor-sektor kehidupan hampir tanpa kecuali. Yang paling mencolok adalah ketidaknalaran dalam kehidupan berpolitik. Maka, para pakar pun sibuk berdiskusi dan melemparkan teori-teori reformasi dan perbaikan.


Lalu, apa yang ditawarkan tasawuf? Melihat kondisi yang seperti itu, tasawuf menawarkan reformasi dan perbaikan mulai dari pondasi Akhlak. Perbaikan ala tasawuf adalah perbaikan dari dalam diri. Sufi-sufi besar tidak hanya melakukan-dan telah berhasil melakukan- perbaikan diri, tapi sebagaimana dicontohkan pemimpin agung mereka Nabi Muhammad SAW, mereka juga berjuang untuk membantu masyarakat dengan cara mendidik mereka dan melakukan kontrol terhadap para penguasa.


Akhlak yang mulia, telah berhasil menorehkan catatan dengan tinta emas pemerintahan Umar Ibn Abdul Aziz dalam lembaran sejarah Dinasti Umayyah. Umar sang khalifah, sebagai penguasa, telah berhasil 'mereformasi' diri-nya dengan meretas akar keburukan: menempatkan materi dan dunia di puncak perhatian. Mendudukkan materi dan dunia di tempatnya yang sebenarnya adalah yang pertama-tama diupayakan khalifah yang dijuluki Umar Kedua ini, setelah sebelumnya ditempatkan di tempat yang terlalu tinggi dan penting.


Maka, tidak heran apabila ada yang menyebut Umar Ibn Abdul Aziz sebagai khalifah kelima dari Khulafa' Rasyidiin.


Tanpa menyebut nama tasawuf atau sufi sekali pun, kiranya kita bisa sepakat bahwa akhlak atau budi pekerti merupakan jawaban paling asasi bagi mereformasi diri dan negeri kita ini. Anda bayangkan saja, apabila para pemimpin, petinggi, dan para politisi di negeri ini berakhlak mulia. Berbudi luhur; jujur, berani mengaku salah, punya malu, tahu diri, berhati bersih, rendah hati, penuh kasih sayang, dermawan, tidak culas, tidak serakah, tidak hasud, tidak sombong; dst. Namun, bagaimana itu bisa menjadi kenyataan bila mereka masih menganggap dunia ini sebagai tujuan hidup dan materi adalah hal penting nomer wahid?


Oleh: KH. A. Mustofa Bisri
Penulis adalah pemimpin Pondok Pesantren Roudhotut Thalibin, Rembang.
Read more

Akhlaq dan Tashawuf

Secara etimologis ahkhlaq adalah bentuk jamak dari khuluq yang artinya budi pekerti, tingkah laku, perangai atau tabi?at। Mempunyai sinonim etika dan moral। Etika dan moral berasal dari bahasa Latin yang berasal dari kata etos : kebiasaan dan mores artinya kebiasaannya. Kata akhlaq berasal dari kata kerja khalaqa yang artinya menciptakan. Khaliq maknanya pencipta atau Tuhan dan makhluq artinya yang diciptakan, sedangkang khalaq maknanya penciptaan. Kata khalaqa yang mempunyai kata yang seakar diatas mengandung maksud bahwa akhlaq merupakan jalinan yang mengikat atas kehendak Tuhan dan manusia. Pada makna lain kata akhlaq dapat diartikan tata perilaku seseorang terhadap orang lain. Jika perilaku atupun tindakan tersebut didasarkan atas kehendak Khaliq (Tuhan) maka hal itu disebut sebagai akhlaq hakiki. Dengan demikian akhlaq dapat dimaknai tata aturan atau norma prilaku yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan serta alam semest


Pengertian akhlaq secara terminologis menurut :


a) Imam Ghozali :


الخلق عبارة عن هيئة في النفس راسخة عنها تصدر الأفعال بسهولة ويسر من غير حاجة إلى فكر ورؤية


Akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa (manusia) yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran maupun pertimbangan?.


b) Ibnu Maskawaih :


الخلق حال للنفس داعية لها إلى أفعالها من غير فكر وروية


Akhlaq adalah gerak jiwa yang mendorong kearah melakukan perbuatan dengan tidak membutuhkan pikiran.


c) Menurut Ahmad Amin :


الخلق عادة الإرادة


Khuluq (akhlaq) adalah membiasakan kehendak.


Dari berbagai definisi diatas, definisi yang disampaikan oleh Ahmad Amin lebih jelas menampakkan unsur yang mendorong terjadinya akhlaq yaitu ?adah : kebiasaan dan iradah : kehendak. Jika ditampilkan satu contoh proses akhlaq adalah ;


1) Dalam ?adah; - harus ada kecenderungan untuk melakukan sesuatu, - terdapat pengulangan yang sering dikerjakan sehingga tidak memerlukan pikiran.


2) Dalam iradah: a) lahir keinginan-keinginan setelah ada rangsangan (stimulan) melalui indra-इन्द्रन्य b) muncul kebimbangan, mana yang harus dipilih diantara keinginan-keinginan itu। Padahal harus memilih satu dari keinginan tersebut c) mengambil keputusan dengan menentukan keinginan yang diprioritaskan diantara banyak keinginan tersebut.


Contoh Pada jam 2 siang seorang berangkat ke pasar untuk mencari bengkel motor untuk membeli kampas rem. Di saat memasuki lorong gang, ketika menoleh ke arah kanan melihat warung makan yang penuh sesak dan kepulan bau nikmat yang ia hirup. Sesaat kemudian melihat arah kiri, terdapat es cendol yang laris dibeli orang. Padahal orang tersebut sudah lapar dan haus. Sementara di arah depan kelihatan mushalla yang nampak bersih dan dilihat hilir mudik orang sembahyang. Kemudian orang tersebut menentukan shalat terlebih dahulu karena mempertimbangkan jam yang sudah limit. Kesimpulan yang dipilih oleh orang tersebut setelah banyak mempertimbangkan beberapa keinginan disebut iradah. Jika iradah tersebut dibiasakan setiap ada beberapa keinginan dengan tanpa berpikir panjang karena sudah dirasakan oleh dirinya maka disebut akhlak.


Sebaliknya ada seorang kaya, mendengarkan pengajian Da?i kondang menjelaskan hikmah infaq. Orang itu kemudian tertarik dan secara spontan memberikan uang satu juta rupiah untuk didermakan. Orang tersebut belum termasuk dermawan, karena pemberiannya ada dorongan dari luar. Orang tidak termasuk ramah tamu jika ia senang membeda-bedakan tamu yang datang. Dengan demikian akhlaq bersifat konstan (tetap-selalu) spontan, tidak temporer dan juga tidak memerlukan pemikiran dan pertimbangan serta dorongan dari luar.


Disamping akhlaq ada istilah lain disebut etika dan moral masing-masing bahasa Latin. Tiga istilah diatas sama ?sama menentukan nilai baik dan buruk sikap perbuatan seseorang. Bedanya akhlaq mempunyai standar ajaran yang bersumber kepada al-Qur?an dan Sunnah Rasul. Etika berstandar kepada akal pikiran, sedangkan moral bersumber kepada adat kebiasaan yang umum berlaku di masyarakat. Dalam penggunaan kata-kata tersebut kadang-kadang terjadi tumpang tindih, seperti Hassan Shadily menggunakan istilah moral sama dengan akhlaq






sedangkan tashawuf dikatakan bahwa: Islam merupakan agama yang menghendaki kebersihan lahiriah sekaligus batiniah. Hal ini tampak misalnya melalui keterkaitan erat antara niat (aspek esoterik) dengan beragam praktek peribadatan seperti wudhu, shalat dan ritual lainnya (aspek eksoterik). Tasawuf merupakan salah satu bidang kajian studi Islam yang memusatkan perhatiannya pada upaya pembersihan aspek batiniah manusia yang dapat menghidupkan kegairahan akhlak yang mulia. Jadi sebagai ilmu sejak awal tasawuf memang tidak bisa dilepaskan dari tazkiyah al-nafs (penjernihan jiwa). Upaya inilah yang kemudian diteorisasikan dalam tahapan-tahapan pengendalian diri dan disiplin-disiplin tertentu dari satu tahap ke tahap berikutnya sehingga sampai pada suatu tingkatan (maqam) spiritualitas yang diistilahkan oleh kalangan sufi sebagai syuhud (persaksian), wajd (perjumpaan), atau fana’ (peniadaan diri). Dengan hati yang jernih, menurut perspektif sufistik seseorang dipercaya akan dapat mengikhlaskan amal peribadatannya dan memelihara perilaku hidupnya karena mampu merasakan kedekatan dengan Allah yang senantiasa mengawasi setiap langkah perbuatannya. Jadi pada intinya, pengertian tasawuf merujuk pada dua hal: (1) penyucian jiwa (tazkiyatun-nafs) dan (2) pendekatan diri (muraqabah) kepada Allah.
Secara harfiah terdapat beberapa penafsiran tentang arti istilah sufi. Di antara penafsiran itu antara lain menyebutkan bahwa kata sufi bermula dari kata safa (suci hati dan perbuatan), saff (barisan terdepan di hadapan Tuhan), suffah (menyamai sifat para sahabat yang menghuni serambi masjid nabawi di masa kenabian), saufanah (sejenis buah/buahan yang tumbuh di padang pasir), safwah (yang terpilih atau terbaik), dan bani sufah (kabilah badui yang tinggal dekat Ka’bah di masa jahiliyah). Menurut Imam Qushaeri, keenam pendapat tersebut di atas jauh dari analogi bahasa kata sufi. Sedangkan yang lebih sesuai adalah berasal dari kata suf (bulu domba). Hal ini dinisbahkan kepada kebiasaan para sufi klasik yang memakai pakaian dari bulu domba kasar sebagai simbol kerendahan hati. Dalam kaidah ilmu sharaf, tasawwafa berarti memakai baju wol, sejajar dengan taqammasa yang berarti memakai kemeja.


Tasawuf secara sederhana dapat diartikan sebagai usaha untuk menyucikan jiwa sesuci mungkin dalam usaha mendekatkan diri kepada Tuhan sehingga kehadiran-Nya senantiasa dirasakan secara sadar dalam kehidupan. Ibn al-Khaldun pernah menyatakan bahwa tasawuf para sahabat bukanlah pola ketasawufan yang menghendaki kasyf al-hijab (penyingkapan tabir antara Tuhan dengan makhluk) atau hal-hal sejenisnya yang diburu oleh para sufi di masa belakangan. Corak sufisme yang mereka tunjukkan adalah ittiba’ dan iqtida’ (kesetiaan meneladani) perilaku hidup Nabi. Islam sekalipun mengajarkan tentang ketakwaan, qana’ah, keutamaan akhlak dan juga keadilan, tetapi sama sekali tidak pernah mengajarkan hidup kerahiban, pertapaan atau uzlah sebagaimana akrab dalam tradisi mistisisme agama-agama lainnya. Abdul Qadir Mahmud menyatakan bahwa pola hidup sufistik yang diteladankan oleh sirah hidup Nabi dan para sahabatnya masih dalam kerangka zuhud. Kata Ahmad Sirhindi, tujuan tasawuf bukanlah untuk mendapat pengetahuan intuitif, melainkan untuk menjadi hamba Allah. Menurutnya, tidak ada tingkatan yang lebih tinggi dibanding tingkat ‘abdiyyat (kehambaan) dan tidak ada kebenaran yang lebih tinggi di luar syariat. Jadi, orientasi fundamental dalam perilaku sufistik generasi salaf adalah istiqamah menunaikan petunjuk agama dalam bingkai ittiba’, dan bukannya mencari karomah atau kelebihan-kelebihan supranatural.


Adapun tasawuf yang berkembang pada masa berikutnya sebagai suatu aliran (mazhab), maka sejauh hal itu tidak bertentangan dengan Islam dapat dikatakan positif (ijabi). Tetapi apabila telah keluar dari prinsip-prinsip keislaman maka tasawuf tersebut menjadi mazhab yang negatif (salbi). Tasawuf ijabi mempunyai dua corak: (1) tasawuf salafi, yakni yang membatasi diri pada dalil-dalil naqli atau atsar dengan menekankan pendekatan interpretasi tekstual; (2) tasawuf sunni, yakni yang sudah memasukkan penalaran-penalaran rasional ke dalam konstruk pemahaman dan pengamalannya. Perbedaan mendasar antara tasawuf salafi dengan tasawuf sunni terletak pada takwil. Salafi menolak adanya takwil, sementara sunni menerima takwil rasional sejauh masih berada dalam kerangka syari’ah. Sedangkan tasawuf salbi atau disebut juga tasawuf falsafi adalah tasawuf yang telah terpengaruh secara jauh oleh faham gnostisisme Timur maupun Barat. Terdapat beberapa pendapat tentang pengaruh luar yang membentuk tasawuf Islam, ada yang menyebutkannya dari kebiasaan rahib Kristen yang menjauhi dunia dan kehidupan materiil. Ada pula yang menyebutkannya dari pengaruh ajaran Hindu dan juga filsafat neoplatonisme. Dalam Hindu misalnya terdapat ajaran asketisme dengan meninggalkan kehidupan duniawi guna mendekatkan diri kepada Tuhan dan menggapai penyatuan antara Atman dan Brahman. Pythagoras juga mengajarkan ajakan untuk meninggalkan kehidupan materi dengan memasuki dunia kontemplasi. Demikian juga teori emanasi dari Plotinus yang dikembangkan untuk menjelaskan konsep roh yang memancar dari dzat Tuhan dan kemudian akan kembali kepada-Nya. Pada konteks ini, tujuan mistisisme baik dalam maupun di luar Islam ialah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog langsung antara roh manusia dan Tuhan, kemudian mengasingkan diri dan berkontemplasi.


Lahirnya tasawuf didorong oleh beberapa faktor: (1) reaksi atas kecenderungan hidup hedonis yang mengumbar syahwat, (2) perkembangan teologi yang cenderung mengedepankan rasio dan kering dari aspek moral-spiritual, (3) katalisator yang sejuk dari realitas umat yang secara politis maupun teologis didominasi oleh nalar kekerasan. Karena itu sebagian ulama memilih menarik diri dari pergulatan kepentingan yang mengatasnamakan agama dengan praktek-praktek yang berlumuran darah. Menurut Hamka, kehidupan sufistik sebenarnya lahir bersama dengan lahirnya Islam itu sendiri. Sebab, ia tumbuh dan berkembang dari pribadi Nabi saw. Tasawuf Islam sebagaimana terlihat melalui praktek kehidupan Nabi dan para sahabatnya itu sebenarnya sangatlah dinamis. Hanya saja sebagian ulama belakangan justru membawa praktek kehidupan sufistik ini menjauh dari kehidupan dunia dan masyarakat. Tasawuf kemudian tak jarang dijadikan sebagai pelarian dari tanggung jawab sosial dengan alasan tidak ingin terlibat dalam fitnah yang terjadi di tengah-tengah umat. Mereka yang memilih sikap uzlah ini sering mencari-cari pembenaran (apologi) atas tindakannya pada firman Allah yang antara lain berbunyi:






الله يحكم بينهم يوم القيامة فيما كنتم فيه تختلفون
Padahal dapat diketahui bersama bahwa nabi dan para sahabatnya sama sekali tidak melakukan praktek kehidupan kerahiban, pertapaan atau uzlah. Mereka tidak lari dari kehidupan aktual umat, tetapi justru terlibat aktif mereformasi kehidupan yang tengah dekaden agar menjadi lebih baik dan sesuai dengan cita-cita ideal Islam.
وعباد الرحمان الذين يمشون على الأرض هون وإذا خاطبهم الجاهلون قالوا سلاما والذين يبيتون لربهم سجدا وقياما والذين إذا أنفقوا لم يسرفوا ولم يقتروا وكان بين ذلك قواما


Sebagaimana halnya fikih dan kalam, tasawuf memang sering dipandang sebagai fenomena baru yang muncul setelah masa kenabian. Tetapi tasawuf dapat berfungsi memberi wawasan dan kesadaran spiritual atau dimensi ruhaniah dalam pemahaman dan pembahasan ilmu-ilmu keislaman. Seperti diungkap R.A. Nicholson, bahwa tanpa memahami gagasan dan bentuk-bentuk mistisisme yang dikembangkan dalam Islam, maka hal tersebut serupa dengan mereduksi keindahan Islam dan hanya menjadi kerangka formalitasnya saja. Dimensi mistis dalam tiap tradisi keagamaan cenderung mendeskripsikan langkah-langkah menuju Tuhan dengan imaji jalan (the path). Misalnya, di Kristen dikenal 3 (tiga) jalan: the via purgativa, the via contemplativa, dan the via illuminativa. Hal serupa ada pula dalam Islam, dengan mempergunakan istilah shari’a, tariqa, dan haqiqa. Praktik kesufian sebagaimana dipahami secara umum dewasa ini memang menuntut disiplin laku-laku atau amalan-amalan yang merupakan proses bagi para salik menemukan kesucian jiwanya. Salik adalah istilah yang diberikan kepada para pencari Tuhan, yaitu orang-orang yang berusaha mengadakan pendekatan (taqarrub) untuk mengenal Allah dengan sebenar-benarnya.


Jalan spiritual yang ditempuh para sufi tidaklah mudah. Dalam tradisi kesufian, tingkatan-tingkatan spiritual digambarkan dalam analogi titik pemberhentian (station atau maqam) yang antara sufi satu dengan lainnya sering terdapat perbedaan pendapat. Station ini antara lain: (1) taubat, (2) zuhud, (3) sabar, (4) tawakkal, (5) ridha, (6) mahabbah, (7) ma’rifah, (8) fana’, (9) ittihad, (10) hulul. Selain maqam, tradisi sufi mengenal apa yang disebut dengan hal (jamaknya ahwal, state). Yakni situasi kejiwaan yang diperoleh seorang sufi sebagai karunia dari Allah atas riyadhah atau disiplin spiritual yang dijalaninya. Suatu situasi kejiwaan tertentu terkadang terjadi hanya sesaat saja (lawaih), adakalanya juga relatif cukup lama (bawadih), bahkan jika hal tersebut sudah terkondisi dan menjadi kepribadian, maka hal inilah yang disebut sebagai ahwal. Beberapa ahwal yang banyak dianut oleh kalangan sufi rumusannya sebagai berikut: (1) muraqabah, (2) khauf, dan (3) raja’, (4) Syauq, (5) Uns, (6) tuma’ninah, (7) musyahadah, (8) yakin. Allah dalam surat al-Nisa ayat 77 menyatakan, “Katakanlah, kesenangan di dunia ini hanya sementara dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa.”


Dalam wacana kesufian, takhalli ‘an al-radzail atau membersihkan diri dari perbuatan tercela merupakan langkah awal untuk membersihkan hati seseorang. Sedangkan tahalli bi al-fadail atau menghiasi diri dengan sifat-sifat luhur adalah tangga berikutnya untuk mencapai tingkat spiritualitas yang lebih tinggi yaitu tajalli (lihat gambar). Jadi disini, tarekat (dari kata tariq = anak jalan) digambarkan sebagai jalan yang berpangkal pada syariat (dari kata syari’ = jalan utama). Ini sebuah pengandaian olah kalangan sufi bahwa sesungguhnya sekolah tasawuf adalah cabang dari dogma agama
Read more

Jihad Fisik Jihad Terendah

Belakangan istilah jihad kembali menyeruak dalam polemi internasional, menyusul orasi ilmiah Paus Benekdiktus XVI di Universitas Rosenburg, Jerman, 12 September lalu. Mengutip ucapan seorang Kaisar Bezentium Paus mengatakan bahwa Islam merupakan agama yang disebarkan dengan jihad kekerasan, dengan pedang.
Tidak bisa diingkari bahwa jihad dalam pengertian yang paling sederhana dan popular adalah berjuang dengan pedang, perang. Lihat saja kitab-kitab fikih, semuanya mengartikan  jihad adalah perang, qital, harb, adu kekuatan fisik dan senjata yang ujungnya adalah kematian, baik di pihak lawan atau diri sendiri.
 Bukan berarti bahwa pada fuqaha tidak tahu bahwa perang (qital) hanya salah satu dari makna jihad. Di dalamnya ada pengertian yang jauh  lebih mendasar, lebih halus, tapi sekaligus lebih tuntas hasilnya. Yakni, apa yang oleh Rasullah disebut dengan jihad akbar. Yakni, jihad mengalahkan hawa nafsu, untuk memenangkan keluhuran budi, atau kemuliaan akhlak.
Boleh jadi, mengapa kitab-kitab fikih serempak mengartikan jihad dengan perang, bukan mengendalikan hawa nafsu, barangkali karena itulah konsep jihad yang memerlukan regulasi-regulasi, aturan-aturan main ketat, detail, dan dingin yang memang menjadi domain kepedulian para fuqaha.
Bahwa kenyataanya pengertian jihad secara fikih itu berakibat pada penyempitan makna jihad dan menggesernya menjadi dan hanya bermakna kekerasan (perang), adalah sesuatu yang tampaknya memang tidak pernah dimaksudkan oleh mereka sendiri.
***
Seperti dikenal luas, Rasullah SAW pernah bersabda kepada pasukan perangnya yang baru pulang dari Perang Badar yang teramat berat.”kalian baru saja kembali dari jihad kecil menuju jihad akbar”. Para sahabat terperanjat, bertanya-tanya dalam hati, apakah ada jihad yang lebih akbar dibanding peperangan yang baru saja mereka selesaikan. Rasullah menjawab,”perang akbar adalah perang mengalahkan diri sendiri, jihad alan nafs.”
Seperti mudah dipahami, perang bertujuan mengalahkan musuh, atau dalam bahasa positifnya merebut kemenangan atas pihak lain. Kalau ditelisik, kemenangan itu ada tiga tingkatan, sesuai dengan sasaran yang hendak ditaklukan sekaligus potensi yang dimiliki manusia sendiri. Dengan demikian, jihad pun bisa dibagi menjadi tiga tingkatan.
Pertama, jihad fisik untuk mengalahkan pihak lain secara fisik dan dengan menggunakan kekuatan dan alat yang juga bersifat fisik, kepalan tangan, pedang, atau rudal. Semua bangsa, semua komunitas, termasuk komunitas agama, pernah terlibat kategori ini, dalam ukuran yang berbeda-beda. Alasannya beragam, eksistensi diri atau sekedar meneguhkan hegemoni diri.
Izin perang yang diberikan Islam kepada umatnya pun terbatas pada pertahanan diri. Tidak lebih. Bahkan, ditegaskan, jika kalian mau membalas serangan, balaslah sepadan dengan tindakan lawan, dan jangan melebihi. Bahkan, apabila kalian bisa menahan diri, tidak melakukan serangan balik, itulah lebih baik (An-Nahl [16]: 126).
Mengapa jihad fisik merupakan jihad paling rendah? Itu karena kemenangan yang diperoleh pun sebatas kemenangan lahiriyah, fisik dari lawan. Orang secara fisik bisa saja dikalahkan. Tetapi, secara pikiran belum tentu. Kemenangan dalam pemikiran terang lebih unggul daripada sekadar kemenangan fisik biologis. Jihad pemikiran (jihad fikri) – jihad kategori kedua, adalah jihad dengan keunggulan ilmu pengetahuan.
Sementara itu, orang boleh saja dikalahkan secara fakir dan ilmu pengetahuan. Tapi, belum tentu dalam hati dia ikhlas mengakui keunggulan lawan dan menjadikanya anutan. Dia bisa saja membuat perhitungan, untuk suatu saat membantainya dengan senjata ilmu pengetahuan dan pemikiran yang lebih unggul.
Adalah jihad kategori ketiga, jihad untuk mengalahkan hati orang dengan keluhuran budi sebagai jihad dengan kemenangan yang paling sejati. Orang yang dikalahkan hatinya, bukan saja secara ikhlas mengaku kalah, tapi sekaligus  secara ikhlas akan menjadikan sang pemenang sebagai pahlawan dan anutan bagi dirinya sendiri. Inilah jihad dengan martabat tertinggi, yang oleh Rasullah disebut jihad akbar, dengan hasil kemenagan yang juga akbar.
***
Puasa tidak dimaksudkan lain kecuali sebagai penyegaran semangat jihad akbar untuk merebut kemenangan sejati melalui keluhuran budi. Intinya adalah pengendalian diri dan kesediaan untuk berbagi dengan sesama, terutama yang kurang beruntung. Kesediaan menghindari makan, makan, minum, dan sejenis, bahkan ketika dalam kesendirian, adalah latihan untuk membangun etos.

Oleh Drs. KH Masdar F. Mas’udi MA

Read more

Meluruskan Makna Jihad


اَلْحَمْدُ للهِ بِذِكْرِهِ تَطْمِئِنُّ الْقُلُوْبَ وَبِفَضْلِهِ تَغْفِرُ الذُّنُوْبَ. أشْهَدُ أنْ لا اِلهَ إلاّ اللهُ الْخاَلِقُ المَعْبُوْدُ وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمّدًا رَسُوْلُ اللهِ الصَّارِفُ الْمَوْعُوْدُ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلامُهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أهْل التَّقْوَى وَالْمَعْرِفَةِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإحْسَانٍ إلَى يَوْمِ الْمَبْعُوْثِ. أمَّا بَعْدُ. فَيَا أيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah SWT

Pada khutbah kali ini, khatib mengajak para jamaah Jum'at sekalian untuk selalu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, dengan selalu mendekatkan diri kepada-Nya, melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, sepatutnya kita mengucapkan puji syukur kehadiratAllah SWT, atas segala limpahan rahmat dan karunia- Nya, sehingga kita dapat berkumpul di tempat yang penuh barokah ini. Shalawat dan salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para kerabatnya.

Hadirin jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah SWT
Di antara kata yang sering ditakuti, dibenci, disalahartikan, dan dibonsaikan maknanya adalah kata jihad. Dalam literatur Barat pada umumnya kata jihad diterjemahkan dengan “holy war” atau perang suci. Padahal perang hanyalah salah satu bentuk dari jihad. Dalam Al-Qur’an, kata jihad diterjemahkan dengan berbagai derivasinya dan terdapat 41 kali, baik dalam surat-surat yang diturunkan pada periode Makkah (Makkiyyah) maupun dalam surat-surat yang diturunkan pada periode Madinah (Madaniyyah).

Akar kata jihad adalah جَهَدَ yang beratti keletihan, kegentingan, kepedihan, kesulitan, upaya, kemampuan, kerja keras dan yang mirip dengan itu. Ayat jihad dalam arti perang (qital) atau melawan musuh, hanyalah sebagai salah satu maknanya, dan baru turun pada tahun kedua Hijriyah yang kemudian digumulkan dengan realitas yang konkrit pada Perang Badar (624 M). Di sini jihad dan qital (perang) menjadi sinonim.

Hadirin jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah SWT


Kita tengok selintas situasi Islam di awal kemunculannya pada abad ke-7 M dan mengapa perintah jihad dalam pengertian qitalitu diberikan? Pada saat komunintas umat muslim yang masih kecil dan baru saja hiirah ke Madinah (622 M), dalam keadaan masih lemah dan letih karena diusir, sementara pihak musuh (Quraisy Makkah) semakin agresif dan beringas, itulah perintah jihad pertama kali diturunkan. Tujuannya agar komunitas barn tabah dan tegar, dan tak berantakan dalam lingkungan yang serba keras, kasar dan penuh kebencian, serta dendam kesumat.

Kedatangan Al-Qur’an dengan prinsip keadilannya bagi elit Makkah sebagai kota komersial berarti akan membahayakan hak-hak monopoli mereka pada sumber-sumber ekonomi perdagangan. Oleh sabab itu, Nabi Muhammad SAW jangan sampai mempunyai kedudukan yang kokoh di Madinah, sehingga pada akhimya akan mengancam posisi mereka. Jihad dalam arti perang pada saat itu adalah mempertahankan diri dengan segala kesungguhan daya dan upaya. Jika tidak demikian maka komunitas Islam akan lenyap ditelan oleh kekuatan sejarah yang tidak bersahabat. Perintah itu terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 193, yaitu:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلّهِ فَإِنِ انتَهَواْ فَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِينَ

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.

Hadirin jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah SWT

Bagi umat Islam, pada waktu itu perintah jihad ini sungguh sangat berat. Karena, mereka baru saja membentuk komunitas di Madinah, sebuah komunitas yang belum stabil. Kemudian dalam surat Al-Hajj dijelaskan tentang izin berperang, yaitu:

الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَن يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيراً وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah". Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (QS. Al-Hajj: 40).

Hadirin jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah SWT

Ayat-ayat di atas jelas sekali menunjukkan makna perang dalam arti defensif atau mempertahankan diri, sekalipun pada ayat-ayat lain dapat pula berbentuk ofensif atau menyerang, tergantung jika situasi mengharuskan demikian. Yakni sepanjang hal itu dilakukan untuk menghapuskan kerusakan di muka bumi (fasad fi al-ardh), menjaga rumah ibadat, bukan merusak atau membakamya, serta kemudian membangun peradaban dengan cara baik dan adil (ishlah).

Hadirin jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah SWT


Dalam lingkungan sejarah Arab abad ke-7 M, metode kekerasan dan ancaman memang merupakan norma sehari-hari dalam menyelesikan sengketa antara suku dan puak. Bahkan dua emporium besar, Byzatium dan Sasaniah, pada abad itu juga terlibat perang dasyat yang penuh kekerasan. Maka, bagi komunitas Islam yang berusia sangat muda, tidak ada jalan lagi untuk bertahan dan mengarahkan kekuatan-kekuatan sejarah kecuali dengan jihad. Tanpa jihad, tujuan untuk menegakkan yang ma 'ruf dan mencegah yang munkar tidak dapat dilaksanakan. Oleh sebab itu, Nabi dan para pengikutnya harus mengatur strategi yang setiap saat dapat mengancam untuk menghancurkan Madinah. Ancaman itu akhimya menjadi kenyataan dalam bentuk Perang Badar pada 624M, seperti disinggung di atas.

Hadirin jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah SWT

Di bawah pimpinan Nabi Muhammad SAW, Komunitas muslim yang kecil harus berjihad habis-habisan, mengerahkan segala daya dan upaya, sebab bagi mereka perang itu akan sangat menentukan hari depan mereka to be or not to be, seperti tercermin dalam doa Rasulullah SAW, "Ya Allah, di sini pihak Quraisy dengan segala kecongkakannya sedang berupaya untuk mendustakan Nabi-Mu. Ya Allah, aku nantikan pertolongan-Mu yang telah engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, sekiranya pasukan kecil ini hancur binasa hari ini, Engkau tak akan disembah lagi". Sebuah lirik doa yang disampaikan dengan keseluruhan kekuatan jiwa.

Doa ini dikabulkan Allah SWT. Maka, jadilah Perang Badar yang dimenangkan pasukan muslim, sekalipun dari segi jumlah pasukan sangat tidak berimbang. Peristiwa Badar telah menjadi salah satu pilar utama sebagai realisasi doktrin jihad guna menopang perkembangan Islam selanjutnya untuk tampil sebagai agama dunia dalam tempo yang relatif singkat. Sekalipun pasukan muslim kalah dalam perang berikutriya, perang Uhud (625 M), umat Islam jauh lebih pereaya diri untuk menghadapi segala kemungkinan yang terburuk sekalipun.

Hadirin jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah SWT
Dalam situasi peradaban atau kebiadaban dalam konstelasi serba global seperti sekarang ini, memang serba ruwet dan setiap persoalan tidak mudah dipahami, kecuali apabila kita mampu membaca akar masalahnya yang paling dalam. Harus diakui bahwa umat Islam yang masih berada di sejarah kemunduran peradaban tampaknya sedang menggapai dengan tertatih-tatih untuk merumuskan jati dirinya yang terkoyak karena proses sejarah yang dilakukan selama berabad-abad. Sebagian kita memakai kaca mata buram sehingga tak mampu lagi melihat realitas yang serba getir dengan sabar dan pikiran jernih. Mereka seperti telah kehilangan harapan dan masa depan, sehingga apa yang dilakukan tidak terkontrol, dan kehilangan kendali.

Hadirin jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah SWT

Untuk situasi Indonesia sekarang doktrin jihad yang perlu dikembangkan dan ditegakkan adalah dalam rangka menciptakan sebuah tatanan sosio-politik yang egalitarian (kesetaraan), adil dan bermoral untuk semua golongan tanpa diskrimiasi. Tatanan semacam inilah yang harus menjadi muara dan tujuan perjuangan kita bersama untuk sebuah Indonesia baru yang adil, makmur, ramah, toleran, dan sehat.

Tidak diragukan lagi bahwa Al-Qur’an menyuruh umat Islam untuk membangun sebuah tatanan politik di dunia untuk tujuan di atas, membangun masyarakat yang mutamaddin. Akan tetapi, mengenai apa nama tatanan itu dan bagaimana sistemnya, Al-Quran tidak menjelaskan dengan terperinci. Dengan cacatan bahwa prinsip musyawarah sebagai simbol egalitarianisme harus tetap dipertahankan. Tergantung pada hasil pemikiran dan kesepakatan bersama untuk merumuskan nama dan sistem kekuasaan itu.

Hadirin jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah SWT

Demikian khutbah yang singkat ini, semoga apa yang khatib jelaskan di atas dapat memberikan gambaran terhadap pemaknaan jihad dalam konteks global seperti sekarang ini. Khatib juga berharap semoga kita mampu memaknai jihad dengan makna yang seluas-luasnya dengan tetap merpegang teguh pada ajaran-ajaran Allah SWT dan Rasul-Nya.


بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبِّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَِّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لَِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KH A Nuril Huda
Ketua PP LDNU 2004-2010
Read more

Jihad

Jihad ( جهاد ) adalah berjuang dengan sungguh-sungguh menurut syariat Islam.
Jihad dilaksanakan untuk menjalankan misi utama manusia yaitu menegakkan Din Allah atau menjaga Din tetap tegak, dengan cara-cara sesuai dengan garis perjuangan para Rasul dan Al-Quran. Jihad yang dilaksanakan Rasul adalah berdakwah agar manusia meninggalkan kemusyrikan dan kembali kepada aturan Allah, menyucikan qalbu, memberikan pengajaran kepada ummat dan mendidik manusia agar sesuai dengan tujuan penciptaan mereka yaitu menjadi khalifah Allah di bumi.


Pelaksanaan Jihad dapat dirumuskan sebagai berikut:
Pada konteks diri pribadi - berusaha membersihkan pikiran dari pengaruh-pengaruh ajaran selain Allah dengan perjuangan spiritual di dalam diri, mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.


Komunitas - Berusaha agar Din pada masyarakat sekitar maupun keluarga tetap tegak dengan dakwah dan membersihkan mereka dari kemusyrikan.


Kedaulatan - Berusaha menjaga eksistensi kedaulatan dari serangan luar, maupun pengkhianatan dari dalam agar ketertiban dan ketenangan beribadah pada rakyat di daulah tersebut tetap terjaga termasuk di dalamnya pelaksanaan Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Jihad ini hanya berlaku pada daulah yang menggunakan Din Islam secara menyeluruh (Kaffah).


Arti kata Jihad sering disalahpahami oleh yang tidak mengenal prinsip-prinsip Din Islam sebagai 'perang suci' (holy war); istilah untuk perang adalah Qital, bukan Jihad.


Jihad dalam bentuk perang dilaksanakan jika terjadi fitnah yang membahayakan eksistensi ummat (antara lain berupa serangan-serangan dari luar).


Pada dasar kata arti jihad adalah "berjuang" atau "ber-usaha dengan keras" , namun bukan harus berarti "perang dalam makna "fisik" . jika sekarang jihad lebih sering diartikan sebagai "perjuangan untuk agama", itu tidak harus berarti perjuangan fisik .


jika meng-arti-kan jihad hanya sebagai peperangan fisik dan extern, untuk membela agama, akan sangat ber-bahaya , sebab akan mudah di-manfaat-kan dan rentan terhadap fitnah .


jika meng-artikan Jihad sebagai "perjuangan membela agama" , maka lebih tepat bahwa ber-Jihad adalah : "perjuangan menegakkan syariat Islam" . Sehingga berjihad harus -lah dilakukan setiap saat , 24 jam sehari , sepanjang tahun , seumur hidup .


Jihad bisa ber-arti ber-juang "Menyampaikan atau menjelaskan kepada orang lain kebenaran Ilahi Atau bisa ber-jihad dalam diri kita sendiri" , Bisa saja ber-jihad adalah : "Memaksakan diri untuk bangun pagi dan salat Subuh , walau masih mengantuk dan dingin dan memaksakan orang lain untuk salat subuh dengan menyetel TOA mesjid dan memperdengarkan salat subuh." dlsb .



Read more
Tatacara dan Doa :
Tatacara Sholat || Sholat Wajib 5 waktu || Sholat Sunnah Rowatib || Sholat Sunnah Tahajud || Sholat Sunnah Dhuha || Sholat Sunnah Witir || Sholat Sunnah Gerhana || Sholat Sunnah Taubah || Sholat Sunnah Hajat || Sholat Sunnah Muthlaq
Pengertian dan Niat:
Puasa Wajib Ramadlan ||Puasa Sunnah Syawwal || Puasa Sunnah Senin Kamis ||Puasa Sunnah Rojab ||Amalan Tahlil || Tatacara Tahlil dan Do'a